Atlet Bulutangkis China Meninggal Mendadak, Pentingnya Penggunaan AED dalam Kondisi Darurat Medis

- 4 Juli 2024, 11:00 WIB
Alat Automated External Defibrillator atau AED.
Alat Automated External Defibrillator atau AED. /ANTARA/Pexels/Vladimir Srajber/

BANJARNEGARAKU.COM - Automated External Defibrillator (AED) merupakan alat penting dalam penanganan kedaruratan medis, terutama dalam kasus gangguan irama jantung yang dapat menyebabkan kematian mendadak.

Belajar dari kasus kematian pebulu tangkis China yang meninggal mendadak saat pertandingan, penggunaan AED dirasa menjadi penting disediakan pada fasilitas umum.

Dilansir dari Antara bahwa dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, dr. Utojo Lubiantoro, SpJP (K), menekankan bahwa AED harus tersedia di setiap fasilitas umum, terutama di tempat-tempat olahraga yang sering mengadakan turnamen dengan intensitas tinggi.

Alat ini berfungsi sebagai rekam jantung EKG yang dapat mendeteksi ritme jantung pasien, sehingga petugas kesehatan bisa menganalisa langkah penanganan selanjutnya.

Jika terjadi gangguan pada irama jantung, seperti fibrilasi atau ventrikel takikardi, diperlukan tindakan kejut jantung dengan defibrillator.

Namun, jika detak jantung flat, tindakan resusitasi jantung paru (RJP) harus segera dilakukan untuk memberikan oksigen pada jantung. Penanganan yang cepat dalam 5-10 menit pertama sangat krusial untuk mencegah kerusakan otak dan kematian batang otak.

Dalam situasi darurat, deteksi kedaruratan seperti mengecek denyut nadi dan menggunakan AED sangat disarankan. Screening jantung secara rutin bagi atlet muda juga penting untuk memastikan tidak ada kelainan jantung yang dapat menyebabkan kematian.

Baca Juga: Intips Psikologi! Mengenal Sifat Asli Seseorang Bisa Lewat 10 Gaya Bercandanya, Cek DISINI!

Kronologi Kematian Pebulu Tangkis China Zhang Zhi Jie

Kasus kematian mendadak Zhang Zhi Jie, seorang pebulu tangkis asal China, terjadi saat bermain di BNI Badminton Asia Junior Championships 2024 pada 30 Juni 2024.

Diberitakan Antara bahwa dalam pertandingan melawan pemain Jepang, Kazuma Kawamo, di GOR Amongrogo, Yogyakarta, Zhang tiba-tiba pingsan. Tim medis segera masuk ke lapangan setelah mendapat panggilan dari wasit.

Tim medis melakukan pemeriksaan awal dan memberikan pertolongan pertama sebelum memutuskan untuk segera membawa Zhang ke Rumah Sakit Pusat Angkatan Udara (RSPAU) Dr. S. Hardjolukito yang berjarak sekitar 4,7 km.

Baca Juga: 4 Lokasi Lari Pagi yang Paling Digemari Orang Banjarnegara, Nomor 3 Ada Bonus Pemandangan

Sesampainya di UGD, Zhang tidak menunjukkan nadi dan napas spontan sehingga dilakukan pijat jantung luar dan bantuan napas selama tiga jam. Namun, Zhang tidak menunjukkan respon sirkulasi spontan dan dinyatakan meninggal dunia pada pukul 20.50 WIB.

Atas permintaan tim official dari China, Zhang kemudian dipindahkan ke Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. Sardjito. Di sana, resusitasi jantung dan paru dilakukan selama satu setengah jam, tetapi tetap tidak ada respon sirkulasi spontan. Akhirnya, tindakan pijat jantung dihentikan pada pukul 23.20 WIB, dan Zhang dinyatakan meninggal akibat henti jantung mendadak.

Jenazah Zhang saat ini masih berada di RSUP Dr. Sardjito menunggu kedatangan keluarganya dari China. Proses pengembalian jenazah ke negara asal akan ditanggung penuh dan dikawal hingga selesai. PBSI mengimbau agar diberikan waktu dan privasi kepada keluarga Zhang dan tim China selama proses ini berlangsung.***

Editor: Afif Fatkhurahman

Sumber: Antara


Tags

Artikel Pilihan

Terkait

Terkini

Terpopuler

Berita Pilgub