Tiga Guru SMPN 1 Banjarnegara Tampil di Konferensi Internasional di Bandung

- 9 Juli 2024, 05:00 WIB
Guru SMPN 1 Banjarnegara, Farkhah Nofianti MPd (berkerudung merah) bersama presenter ICMScE 2024 dari beberapa negara selepas presentasi di UPI Bandung
Guru SMPN 1 Banjarnegara, Farkhah Nofianti MPd (berkerudung merah) bersama presenter ICMScE 2024 dari beberapa negara selepas presentasi di UPI Bandung /Ali A/

BANJARNEGARAKU.COM - BANDUNG - Tiga guru SMPN 1 Banjarnegara, yaitu Dr Tuswadi, Farkhah Nofianti MPd, dan Retno Puspitorini MPd, tampil di Konferensi Internasional Pendidikan Matematika dan IPA di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Senin, 8 Juli 2024.

International Conference for Mathematics and Science Education (ICMScE) merupakan konferensi Tingkat internasional yang diadakan setiap tahun di negara-negara anggota ICMcE.

Tahun ini ICME dilaksanakan di UPI Bandung dengan tema “Strengthening Science and Mathematics Education as a Valuable Foundation for Sustainable Development Goals”. Pesertanya sekitar 300 orang guru dari berbagai negara seperti Indonesia, Jepang, Hongkong, Thailand, Jerman, Korea, Singapura, dan lain-lain.

Baca Juga: Menparekraf Sandiaga Uno Dijadwalkan Kunjungi Purbalingga, Hadiri Festival Gunung Slamet

Setiap peserta mempresentasikan hasil riset terkini disaksikan oleh peserta lain dan audience yang kebanyakan merupakan peneliti, dosen, guru, dan mahasiswa S-2/S-3.
Dr Tuswadi yang mendalami riset Pendidikan kebencanaan mempresentasikan hasil penelitiannya bersama kolega ilmuwan Jepang berjudul “Importance of Teacher Training in Disasters Prone Area: A Case Study on Teacher Training Program for Disaster Prevention Education in Central Java”.

Hasil risetnya membuktikan masih terdapat masalah klasik yang dialami oleh peserta didik di sekolah Kabupaten Banjarnegara yakni rendahnya ketertarikan mereka dalam mempelajari pengetahuan tanggap bencana di sekolah dan kesulitan mereka dalam memahami materi kebencanaan.

Para guru juga masih mengalami kebingungan dalam mengimplementasikan pembelajaran tanggap bencana terintegrasi dengan mata Pelajaran pokok di sekolah seperti IPA, Matematika, Agama, dan lainnya.

Baca Juga: Manfaatkan Waktu Luang dengan Zumba, Berikut ini 7 Manfaat Latihan Zumba, yang Bisa Bikin Bahagia!

Untuk memberikan solusi masalah tersebut Dr Tuswadi bersama Prof Hayashi Takehiro dari Hiroshima University Jepang telah menggelar penataran guru terkait cara dan metode pengajaran pendidikan tanggap bencana.

Sesuai dengan hasil survey terhadap guru efektif mampu meningkatkan pengetahuan para guru mengenai mekanisme terjadinya bencana alam dan metode pengajaran yang konteksual.

Farkhah Nofianti MPd (berkerudung merah) sedang melakukan presentasi di event ICMScE 2024 yang diikuti para guru dari beberapa negara di UPI Bandung
Farkhah Nofianti MPd (berkerudung merah) sedang melakukan presentasi di event ICMScE 2024 yang diikuti para guru dari beberapa negara di UPI Bandung

Sementara Farkhah Nofianti dan Retno Puspitorini yang merupakan guru mata Pelajaran IPA mempresentasikan hasil riset mengenai perbedaan dan persamaan pembelajaran IPA di SMP Banjarnegara dan di SMP Hiroshima focus pada proses experiment (percobaan).

Ditemukan data bahwa secara umum proses eksperimen peserta didik kelas VIII di bawah bimbingan guru baik di Banjarnegara maupun di Jepang, urutannya sama.

Hanya saja secara infrastruktur kondisi ruang laboratorium IPA di sekolah Jepang jauh lebih baik daripada laboratotrium sekolah Indonesia.

Baca Juga: Wajib Tahu, Jadwal MPLS 2024 Bagi Peserta Didik Baru se Jawa serta Apa Aktivitasnya?

Laboratorium di SMP Jepang mempunyai penerangan yang sangat ideal untuk menjamin konsentrasi peserta didik; memiliki 16 lampu dan 6 kipas angin, sedangkan laboratorium di SMP Indonesia hanya punya 1 lampu dan 1 kipas angin.

Guru Jepang masih menggunakan papan tulis dan kapur untuk menjelaskan materi sedangkan guru Indonesia tidak menggunakan papan tulis dan kapur.

Di lain sisi, peserta didik di sekolah Indonesia mempresentasikan hasil experimen secara berkelompok, tetapi di sekolah Jepang anak-anak tidak presentasi.

Selain itu guru Indonesia tidak memberitahu hasil percobaan di awal pelajaran, sedangkan guru di SMP Jepang menjelaskan perkiraan hasil percobaan yang akan dilakukan oleh peserta didik.

Baca Juga: Contoh Soal IPA Biologi Kelas 12 SMA MA Kurikulum Merdeka Materi Cara Kerja Enzim

Konferensi berlangsung selama 3 hari. Mulai tanggal 8 Juli hingga 10 Juli 2024 di Gedung FMIPA UPI Bandung.

Konferensi ditutup dengan City Tour dimana para peserta diajak mengunjungi sejumlah destinasi wisata di Kota Bandung seperti Tangkuban Perahu, Rumah Mode, Musium Sate, dan Saung Ujo.***

Editor: Ali A

Sumber: Rilis


Tags

Artikel Pilihan

Terkait

Terkini

Terpopuler

Berita Pilgub