Asal Usul Perang Sarung yang Menyebabkan Puluhan Remaja Banjarnegara Ditangkap Polisi

- 19 Maret 2024, 22:37 WIB
Aksi perang sarung yang melibatkan dua kelompok pemuda terjadi di Banjarnegara pada Rabu 27 April 2022 dini hari.
Aksi perang sarung yang melibatkan dua kelompok pemuda terjadi di Banjarnegara pada Rabu 27 April 2022 dini hari. /tangkaoan layar laman Facebook Info Cepat Banjarnegara

BANJARNEGARAKU.COM - Masyarakat yang merasa resah minta bantuan ke kepolisian untuk mengamankan puluhan remaja yang diduga akan melakukan perang sarung. Para remaja ini berkumpul dan diduga bersiap untuk tawuran. 

Pada Jumat 15 Maret 2024 dilaporkan dan ditangkap 18 remaja di lokasi Jl. Letnan Karjono, Parakancanggah, Kecamatan Banjarnegara. Sedangkan pada Minggu malam 17 Maret 2024 dilaporkan dan ditangkap 32 remaja di Somawangi kecamatan Mandiraja. 

Baca Juga: RSI Sultan Agung Semarang Tanggulangi Banjir, Ketua BNPB: Siap Membantu dari Berbagai Lini

Perang sarung sering muncul pada bulan Ramadhan. Entah siapa yang menyebarkan kebiasaan kurang baik ini terutama di kalangan remaja. 

Peristiwa mengenaskan bahkan pada tahun 2022. Seorang remaja di Tegal tewas dalam perang sarung. Dilansir dari Banjarnegaraku, 

Catur Setiawan (18 tahun) warga Kelurahan Procot, Kecamatan Slawi yang juga merupakan pelajar SMKN 2 Slawi menghembuskan nafas terakhirnya di RSUD dr Soeselo, Slawi. 

Baca Juga: Yuk Bergadang! Berebut Tiket Kereta untuk Mudik ke Banjarnegara

Korban terlibat dalam aksi perang sarung di Kelurahan Procot, Kecamatan Slawi, Kabupaten Tegal jelang sahur yang melibatkan 2 kelompok remaja pada Minggu 10 April 2022.

Penelusuran Banjarnegaraku, perang sarung adalah tradisi dari Suku Bugis yang dilakukan untuk menyelesaikan masalah atau pertikaian. Tradisi ini dilakukan dengan cara saling memukul menggunakan sarung yang diikat pada ujungnya dan diisi dengan batu, gir motor, atau senjata tajam. 

Permainan ini dilakukan secara bergantian, dan pemain menangkis pukulan lawan dengan sarung. Permainan berakhir ketika salah satu pemain menyerah atau sarungnya terjatuh. 

Baca Juga: Bank Indonesia: Segini Batas Penukaran Uang Baru untuk Lebaran 2024, Berikut Jadwal dan Lokasinya...

Perang sarung biasanya dilakukan pada bulan Ramadhan, terutama saat hari libur sekolah. Namun, tradisi ini sudah mulai ditinggalkan di tempat asalnya dan kini malah dikonotasikan negatif di kalangan anak muda. 

Tradisi perang sarung di Sulawesi Selatan juga dikenal dengan sebutan sigajang laleng lipa. Makna kalimat ini adalah saling tikam dalam satu sarung. Tradisi ini dilakukan dengan cara berduel dalam satu sarung dengan menggunakan senjata berupa badik. 

Akibat fatal ini tentu tidak diinginkan baik oleh orang tua maupun oleh masyarakat umum. Melaporkan kumpulan remaja yang diduga akan perang sarung kepada polisi adalah tindakan tepat yang bisa dilakukan. ***

 

Editor: Aris BRAVE

Sumber: banjarnegaraku.com


Tags

Artikel Pilihan

Terkait

Terkini

Terpopuler

Pemilu di Daerah

x