Prof Ahmad Rofiq: Puasa dan Doa yang Mustajab

- 30 Maret 2024, 13:00 WIB
Prof Ahmad Rofiq
Prof Ahmad Rofiq /Ali A/

Oleh Ahmad Rofiq*)

BANJARNEGARAKU.COM - Tadi pagi (30/3/24) saya mendapat kehormatan untuk memberikan taushiyah bakda shalat Subuh di Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) Semarang.

Kebetulan imam shalat rawatib, KH. Ulil Abshar Alhafidh, agak kurang fit, maka diamanati beliau untuk mengimami shalat subuh.

Tema yang diberikan panitia adalah “Doa yang Mustajab”. Bahasan tadarus bakda Subuh yang menarik, apalagi puasa sudah sampai di tanggal 10 Ramadhan 1445.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman dalam QS. Al-Baqarah: 185, “Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil). Oleh karena itu, siapa di antara kamu yang hadir (di tempat tinggalnya atau bukan musafir) pada bulan itu, berpuasalah”.

Kemudian pada QS. Al-Baqarah: 186 Allah menegaskan: “Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang Aku, (katakan) sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa, apabila ia berdoa kepada-Ku. Maka hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran”.   

Ayat tersebut menegaskan, bahwa Allah mengabulkan doa orang yang berpuasa dan menghidupkan malam-malamnya, karena ibadah puasa bertujuan untuk menjadi ritual proses pencucian dosa melalui pengampunan dari Allah SWT.

Baca Juga: Menu Buka Puasa yang Segar dan Lezat: Resep Garang Asem

Namun nada tata krama yang harus dipenuhi, manusia sebagai hamba harus atau wajib berdoa atau adab berdoa.

Berdoa adalah simbol dan sekaligus praktik merendahkan hati, fikiran, dan perasaan dengan penuh kekhusyuan dan ketawaduan di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla.

Maka redaksi ‘idza da’aani” artinya “apabila seseorang berdoa kepada-Ku”.

3 Orang yang Doanya Diijabahi

Rasulullah saw menegaskan, bahwa Riwayat dari Abu Hurairah ra, sesungguhnya Nabi saw bersabda: “Tiga doa yang diijabahi tanpa ada keraguan di dalamnya, adalah:

1). Doa orang tua (kepada anak-anaknya);

2). Doa orang yang musafir (dalam perjalanan); dan

3). Doa orang yang teraniaya atau didzalimi” (Riwayat Ahmad, Abu Dawud, dan At-Tirmidzi).

Baca Juga: Debt Collector Shopee: Apakah Benar Mereka Datang ke Rumah?

Dalam Riwayat At-Tirmidzi dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda: “Ada 3 orang yang doanya tidak ditolak" yaitu:

1). Imam yang adil, orang yang berpuasa.

Ketika ia berbuka, dan doa orang yang teraniaya. Doanya itu dinaikkan Allah menembus awan dan dibukakan baginya pintu-pintu langit, serta firman Allah kepadanya:

“Demi kemuliaan-Ku, Aku akan menolongmu, walau di belakang nanti”. (At-Tirmidzi).

Sejalan dengan hadits Rasulullah saw bahwa bulan Ramadhan adalah bulan yang dihadirkan oleh Allah, di mana pintu surga dibuka lebar-lebar, pintu neraka jahim ditutup rapat-rapat, setan-setan dibelenggu, apalagi nanti di sepuluh hari ketiga (terakhir), Allah akan memberi kesempatan kepada hamba-hamba-Nya yang melakukan rangkaian ibadah iktikaf, memperbanyak istighfar, dan berdoa memohon kepada Allah, maka doa dan permohonannya dikabulkan oleh Allah.

Berdoa pada hakikatnya, buah dari bentuk kesadaran akan ke-Maha Besar-an dan betapa besar kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya.

Baca Juga: Debt Collector Shopee: Apakah Benar Mereka Datang ke Rumah?

Karena itu, dalam berdoa haruslah memenuhi tata krama dan dilakukan dengan penuh keyakinan dan husnudzan kepada Allah.

2). Orang tua yang terus menerus mendoakan anak-anaknya. Orang tua yang seperti itu adalah termasuk satu dari tiga orang yang doanya tidak ditolak di bulan Ramadhan.

Karena itu bulan Ramadhan merupakan momentum sangat istimewa bagi para orang tua agar terus menerus mendoakan kepada putra-putrinya, agar menjadi generasi yang shalih dan shalihah, bermanfaat bagi nusa, bangsa, dan agama.

Allah ‘Azza wa Jalla telah melimpahkan kehendak-Nya kepada kedua orang tua.

Rasulullah saw menegaskan: “Ridha Allah (terletak) dalam Ridha kedua orang tua, dan murka Allah (terletak) dalam murka kedua orang tua” (HR. At-Tirmidzi).

Maksud hadits tersebut adalah, bahwa Allah menjadikan ridha-Nya dari ridha kedua orang tua dan murka-Nya dari murka mereka.

Maka barang siapa kedua orang tua meridhai anak-nya, maka berarti Allah Ta’ala meridhainya.

Baca Juga: Resep Jus Buah Naga Segar untuk Buka Puasa yang Menyegarkan

Demikian juga, apabila kedua orang tua memurkainya, maka berarti Allah Ta’ala memurkainya.

3). Rasulullah saw menyebutkan seorang musafir (bepergian jauh), bajunya compang-camping dan berdebu. Musafir termasuk satu dari tiga orang yang doanya tidak ditolak di bulan Ramadhan.

Ia menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berdoa: “Ya Tuhanku…Ya Tuhanku…”.

Padahal makanannya haram (apa yang dia temui antara lain binatang binatangyang diharamkan), minumannya haram, pakaiannya haram, ia tumbuh dari barang yang haram, lantar bagaimana mungkin dianya dikabulkan?” (Riwayat Muslim)

Baca Juga: Jangan Sedih karena Akun DANA Sedang Diproteksi! Kenali Cirinya dan Lakukan Cara Ini

Marilah kita jadikan Ramadhan ini sebagai momentum untuk membersihkan diri, Allah sudah membuka kesempatan lebar-lebar, bahkan memberikan jalan tol khusus masuk surga bagi hamba-hamba-Nya yang berpuasa Ramadhan, yakni pintu Rayyan, yang khusus hanya dilewati oleh hamba-hamba yang berpuasa.

Karena itu, Rasulullah saw juga bersabda: “Barang siapa yang senang doanya dikabulkan oleh Allah, maka perbaiki makanan kalian (dengan makanan yang halal)”.

Sa’ad mengatakan: “Aku tidak mengangkat sesuatu pun makanan ke mulutku kecuali aku tahu dari mana datangnya dan ke mana ia dikeluarkan”. (Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, 1:275 dikutip dari muslim.or.id).

Semoga di sisa puasa Ramadhan kita menapaki puncak dari serangkaian malam Istimewa, yakni malam lailatul qadar, maka kesempatan ini kita jemput dan nantikan, dan Allah ‘Azza wa Jalla mengizinkan kita sebagai hamba-hamba-Nya yang mendapatkan keberkahan malam mailatul qadar, yang lebih mulia dari seribu bulan atau setara 83,3 tahun. Allah al-musta’an ila qadarin ma’lum.  Allah a’lam bi sh-shawab.    

Baca Juga: Santri Sabilurrosyad Muhammadiyah Banjarnegara Berbagi 1.000 Takjil

*) Prof Ahmad Rofiq (Prof. Dr. H. Ahmad Rofiq, MA.), adalah Ketua PW Dewan Masjid Indonesia (DMI) Provinsi Jawa Tengah, Guru Besar Hukum Islam Pascasarjana UIN Walisongo, Direktur LPPOM-MUI (Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan dan Kosmetika-Majelis Ulama Indonesia) Provinsi Jawa Tengah, Ketua Bidang Pendidikan Masjid Agung Jawa Tengah, Ketua II YPKPI Masjid Raya Baiturrahman Semarang, Ketua Dewan Pengawas Syariah (DPS) Rumah Sakit Islam Sultan Agung, dan Ketua DPS BPRS Kedung Arto Semarang, DPS BPRS Bina Finansia Semarang.

Demikian artikel mengenai 3 orang yang doanya diijabah oleh Allah SWT. Semoga bermanfaat.***

Editor: Ali A

Sumber: Prof Ahmad Rofiq


Tags

Artikel Pilihan

Terkait

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah

x